Rabu, 15 Mei 2024

MAKALAH TANTANGAN KEPEMIMPINAN YANG ADA DI INDONESIA

 

 

 

MAKALAH

TANTANGAN KEPEMINPINAN DALAM PEMERINTAHAN INDONESIA

 





MATA KULIAH

KEPEMIMPINAN DALAM SEKTOR PUBLIK

DOSEN PENGAMPU : HENDRA SUKMANA, M.KP

OLEH : DWI APRIANA

NIM : 232020100154

 

PRODI ADMINISTRASI PUBLIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

2024

 

 

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami bisa menyelesaikan makalah mata kuliah "Kepemimpinan Dalam Sektor Publik".

Sholawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad saw. yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur'an dan sunah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan satu di antara tugas mata kuliah Perencanaan Pembangunan di program studi Administrasi Publik Fakultas Organisasi, Hukum, dan Ilmu Sosial pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Hendra Sukmana, M.KP. selaku dosen pembimbing mata kuliah Kepemimpinan dalam sektor publik dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini maka itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                                Sidoarjo, 14 Mei 2024

 

 

                                                                                                              Penulis

 

 

 

ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................................................. i

Kata Pengantar ................................................................................................................. ii

Daftar Isi .......................................................................................................................... iii

 

BAB I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah ............................................................................................  

1.2  Rumusan Masalah …………………………………………………………………...

1.3 Tujuan Pembahasan ...................................................................................................

 

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Arti Kepemimpinan ..............................................................................

2.2. Macam gaya kepemimpinan.................................................................

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .................................................................................................................

3.2 Saran………................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................

 

 

 

 

iii

 

 

 

 

BAB I. PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang Masalah

 

Indonesia merupakan bangsa yang secara politik dan secara resmi meraih kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945, dan diakui dari negara luar yaitu dari Sabang sampai Merauke dan Indonesia menganut sistem pemerintahan Presidensial yaitu Presiden sebagai kepala Negara sekaligus kepala Pemerintahan. Presiden juga dibantu oleh wakil Presiden dan menteri-menteri dalam kabinet yang memegang kekuasaan eksekutif untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan sehari-hari.

Dalam sejarah perjalanan lembaga Kepresidenan Indonesia mempunyai karakteristik tersendiri yang menjadi pemimpin saat itu. Pada konstitusi pun Indonesia setidaknya ada tiga sampai empat kali perubahan konstitusi. Selama lebih dari tujuh puluh dua tahun kemerdekaan sejak tahun 1945, Indonesia telah memiliki tujuh presiden yaitu Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Setiap presiden memiliki karakteristik gaya tersendiri dalam memimpin. Tentunya mereka menerapkan gaya kepemimpinan masing-masing berdasarkan era dan kondisi Indonesia saat itu.

Indonesia adalah negara yang begitu luas, dengan jumalh penduduk yang banyak sehingga terdiri dari berbagai macam suku dan budaya. Memiliki bentang alam yang indah dan luas yang terbentang dari Sabang sampai Merauke merupakan keunggulan tersendiri sebagai negara yang luas. Namun, tidak menutup kemungkingan hal itu juga merupakan kendala untuk melangsungkan kegiatan pemerintahan. Seiring dengan berjalannya waktu, dalam menjalankan pemerintahan yang ada di Indonesia, pemimpin memiliki beberapa kendala dan tantangan yaitu :

1.     Indonesia adalah sebuah negara republik yang terdiri dari banyak pulau di kawasan Asia Tenggara. Luas daratannya adalah 1.913.578,68 km² dan luas perairannya mencapai 6.653.341,439 km², dengan garis pantai sepanjang 99.093 km yang mana merupakan wilayah yang sangat luas dengan pulau-pulau terpisah perairan.

2.     Jumlah penduduk Indonesia saat ini sebanyak 279.449.131 jiwa per Senin 6 Mei 2024, berdasarkan penjabaran Worldometer dari data terbaru PBB 1 . Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 277.534.122 jiwa pada pertengahan tahun.

3.     Karena keberagaman daerah, mata pencaharian penduduk Indonesia juga cukup beragam yaitu, petani, pekebun, peternak, nelayan, peternak, buruh pabrik, pengusaha jasa dll

4.     Kepadatan penduduk yang cukup tinggi membuat kesenjangan sosial yang berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di kota-kota besar

5.     Pembangunan infrastruktur yang tidak merata

6.     Pendidikan yang tidak merata

7.     Suhu politik yang memanas

8.     Kurangnya lapangan kerja

9.     Etos kerja penduduk yang buruk

10.  Laju perkembangan teknologi yang terlalu pesat

11.  Mental pemerintahan yang buruk dengan maraknya kasus korupsi dan gratifikasi yang menjadikan menurunnya kepercayaan Masyarakat terhadap pemerintah.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.     Apa arti kepemimpinan ?

2.     Berapa macam gaya kepemimpinan ?

3.     Apa gaya kepemimpinan yang sesuai untuk Negara Indonesia ?

 

1.3  Tujuan Pembahasan

1.     Untuk mengetahui apa arti dari kepemimpinan

2.     Untuk mengetahui macam-macam gaya kepemimpinan yang ada

3.     Untuk mengetahui gaya kepemimpinan seperti apa yang cocok untuk Indonesia

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

Keberhasilan suatu organisasi terletak di tangan seorang pemimpin. Pemimpin yang baik perlu memiliki kemampuan dalam membimbing, memotivasi, dan mengarahkan bawahan agar bisa bekerja sama mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan. Agar bisa sukses menjadi seorang pemimpin, perlu menerapkan gaya kepemimpinan dalam menjalankan tugasnya. Gaya kepemimpinan ini tidak hanya mencerminkan cara dalam mengelola tim, tetapi menciptakan fondasi untuk budaya tempat kerja yang kuat.

Secara umum, kepemimpinan menggambarkan hubungan yang erat antara seseorang pemimpin dengan sekelompok manusia yang dipimpin karena adanya kepentingan bersama. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi. Kepemimpinan mutlak diperlukan bila terjadi interaksi kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan organisasi.

Menurut Paul Hersey dan Ken Blanchard dalam teori “kepemimpinan siklus hidup” yang kemudian berganti nama menjadi teori “kepemimpinan situasional” (1969), mengemukakan bahwa esensi kepemimpinan adalah tercapainya tujuan melalui kerja sama kelompok. Kepemimpinan seharusnya ditempatkan di depan baru kemudian diikuti dengan manajemen. Mengapa kepemimpinan harus diletakkan terlebih dahulu, yaitu karena kepemimpinan pada dasarnya merefleksikan proses pemimpin menciptakan visi, mempengaruhi sikap, perilaku, pendapat, nilai- nilai, norma, dan sebagainya dari pengikut untuk mewujudkan visi tersebut.

Peranan kepemimpinan adalah memberikan dorongan terhadap bawahan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan secara umum didefinisikan sebagai suatu seni bagaimana membuat orang lain mengikuti serangkaian tindakan dalam mencapai tujuan. Tujuan ini merefleksikan nilai-nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi yang diharapkan oleh pemimpin dan yang dipimpin. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun, dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Dari sekian banyak definisi kepemimpinan yang pernah dikemukakan para pakar, satu diantaranya yang paling lugas dan sederhana adalah apa yang pernah dikemukakan John C. Maxwell dalam bukunya “The 21 Irreputable Laws Of Leadership” bahwa “Kepemimpinan itu adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang”.

Menurut Maxwell, baik-buruknya suatu kepemimpinan akan membawa pengaruh dalam segala segi kehidupan organisasi yang dipimpinnya. Setidaknya terdapat 3 esensi kepemimpinan yang perlu dipelajari dan ditumbuhkan agar dapat menjadi sosok pemimpin yang ideal dan dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Ketiga esensi penting dari kepemimpinan tersebut adalah:

 

1. PENGARUH

Esensi pertama dari kepemimpinan adalah pengaruh. Seorang pemimpin seharusnya dapat membawa pengaruh yang positif bagi mereka yang dipimpinnya. Sebuah organisasi akan berjalan dengan maksimal dan baik dalam rangka mewujudkan visi jika mendapat pengaruh positif yang kuat dari seorang pemimpin. Pengaruh positif yang kuat ini akan menciptakan atmosfir yang kondusif bagi pertumbuhan dan kemajuan organisasi. Pengaruh pemimpin yang positif ibarat air kehidupan bagi mereka yang dipimpinnya. Pengaruh positif yang kuat ini lahir dari integritas. Dari integritas lahir keteladanan dan wibawa sebagaimana pernah Sun Tzu nyatakan, “Pemimpin memimpin dengan teladan bukan dengan kekerasan”. Pemerintahan yang bersih dan berwibawa lahir dari pemimpin yang berintegritas serta memancarkan keteladanan sehingga pengaruh positifnya sangat kuat melingkupi seluruh organisasi yang ia pimpin.

 

2. PEMBERDAYAAN

Esensi kedua dari kepemimpinan adalah pemberdayaan. Pemimpin yang baik adalah pemipin yang mampu menggali seluruh potensi yang ada dalam organisasi yang ia pimpin. Pemimpin akan memberdayakan segala potensi yang ada, terutama pemberdayaan SDM, demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Pemberdayaan SDM memiliki peranan yang strategis dalam kerangka pencapaian tujuan organisasi. Dalam arti luas, pemberdayaan SDM secara substansi dipahami sebagai proses peningkatan potensi, kompetensi, dan karir dari pegawai. Sebagai sumber daya, tak jarang para pegawai menghadapi kendala ataupun hambatan di dalam melaksanakan tugas sehari-hari sehingga tidak dapat memenuhi ekspektasi dan tuntutan organisasi. Dalam situasi seperti itu, diperlakukan intervensi yang dimaksudkan untuk memampukan dan memberdayakan para pegawai agar dapat memunculkan potensi yang mereka miliki hingga bisa memaksimalkan kinerja mereka dalam bekerja. Diperlukan ketajaman dan kejelian dalam melihat segala potensi yang dimiliki yang ada dalam wilayah kepemimpinannya. Maxwell mengungkapkan bahwa “The best leaders are humble enough to realize their victories depend upon their people”. Para pemimpin yang baik memiliki sifat rendah hati untuk menyadari bahwa kemenangan-kemenangan mereka bergantung pada pencapaian orang-orang yang dipimpinnya. Organisasi yang ia pimpin dapat maju dikarenakan memberdayakan semua sumber-sumber daya yang ada terutama sumber-sumber daya manusia, bukan justru memanfaatkan mereka yang ia pimpin demi keuntungan pribadi. Dalam hal ini coaching, mentoring dan counseling mestinya menjadi perilaku kepemimpinan yang ditunjukkan sehari-hari di dunia kerja.

 

3. PELAYANAN/PENGABDIAN

Esensi ketiga dari kepemimpinan adalah pelayanan/pengabdian. Pemimpin yang baik adalah mereka yang justru melayani, bukan untuk dilayani. Pelayanan dan kepemimpinan sepertinya adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Bagaimana mungkin melayani tapi juga memimpin? Bukankah pemimpin itu justru adalah harus dihormati, dilayani, disanjung? Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk bersedia merendahkan diri melayani mereka yang ia pimpin dengan penuh pengabdian. Fokusnya hanyalah bagaimana mensejahterakan, mengantarkan segala kebaikan bagi mereka yang ia pimpin. Jiwa pelayanan atau pengabdian ini akan mengibarkan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang besar dan bermartabat.

Di lingkungan birokrasi sering terjadi kerancuan atau mencampuradukkan antara istilah pemimpin dengan pimpinan. Banyak orang menyebut pemimpin itu adalah orang yang memiliki jabatan atau kedudukan. Padahal dua hal ini adalah sesuatu yang berbeda. Kepemimpinan tidaklah sama dengan kedudukan atau jabatan. Pemimpin (leader) adalah orang yang menjalankan kepemimpinan (leadership), sedangkan istilah pimpinan merujuk kepada kedudukan seseorang pada hirarki tertentu pada suatu organisasi. Pimpinan organisasi ini tentu saja memiliki bawahan/pengikut yang karena kedudukannya seorang pimpinan mempunyai kekuasaan formal (wewenang/authority) dan tanggung jawab (akuntabilitas). Istilah lain di lingkungan birokrasi yang memiliki makna sama dengan pimpinan adalah atasan atau lazim juga disebut sebagai pejabat.

Maxwell menyebutkan bahwa pemimpin yang baik selalu membuat sesuatu terjadi. Mereka memberikan hasil kerja. Sebaliknya, pemimpin yang tidak kompeten hanya peduli pada posisi jabatan sehingga cenderung memainkan politik daripada menghargai bawahan/pengikutnya dan menjalankan peran kepemimpinannya. Padahal bawahan yang baik sekali pun tidak dapat mentolerir pemimpin yang buruk. Seringkali hal ini akan berujung pada ketidakpuasan di tempat kerja.

Sebagai pemimpin harus memandang setiap orang sebagai pribadi yang utuh, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Menjadi pendengar yang baik, pertahankan suasana hati yang konsisten dan tetap optimis. Pemimpin yang baik tahu bahwa konflik atau dinamika hubungan akan naik dan turun ketika memimpin mereka namun tugas pemimpinan adalah tetap mempertahankan sikap positif kala berhubungan dengan anggotanya. Hingga pada akhirnya bawahan akan memberikan upaya terbaik ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka selalu hadir untuk mendorong dan mendukung mereka. Seorang pemimpin harus memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan setiap orang yang dipimpin dan memahami bagaimana mereka sesuai dengan kebutuhan tim. “A leader must have a clear picture of each person’s strengths and weaknesses and understand how they fit the needs of the team”, kata Maxwell. Tentukan nilai-nilai yang penting dan terapkan nilai-nilai itu bersama bawahan. Beri apresiasi kepada bawahan yang menunjukkan kontribusi.

Pemimpin harus menggali berbagai solusi atas berbagai persoalan yang terjadi. Memang perlu waktu dan kesabaran, tetapi begitulah bila kita ingin orang-orang yang kita pimpin lebih berdaya dan kelak siap menjadi pemimpin yang lebih hebat dari kita, karena salah satu ciri keberhasilan kita sebagai seorang pemimpin adalah manakala kita berhasil melahirkan atau menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang bahkan lebih hebat dari kita

Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin dalam mengelola timnya untuk mencapai tujuan organisasi, yang mencakup perilaku, nilai, dan metode yang digunakan untuk menggerakkan anggota tim menuju pencapaian yang diinginkan.

Tidak ada satu pendekatan kepemimpinan yang sesuai untuk semua situasi. Gaya kepemimpinan yang ada bervariasi dan pemimpin yang efektif harus mampu mengadaptasi gayanya sesuai kebutuhan dan dinamika tim serta organisasi yang dipimpinnya.Sebagai contoh, dalam situasi tertentu, Anda perlu menerapkan pendekatan demokratis yang melibatkan partisipasi aktif anggota tim dalam pengambilan keputusan. Di lain waktu, Anda harus menerapkan gaya kepemimpinan otokratis dan mengambil keputusan tunggal jika menghadapi situasi genting yang memerlukan ketegasan seorang pemimpin.

Keputusan mengenai gaya kepemimpinan yang tepat dapat memengaruhi budaya lingkungan kerja dan produktivitas bawahan secara signifikan. Pemimpin yang memahami berbagai gaya kepemimpinan dan menerapkannya dengan bijaksana memiliki peluang besar untuk mencapai kesuksesan dalam memimpin tim serta mencapai tujuan organisasi dengan efektif. Berikut ada 10 gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh pemilik organisasi atau pemimpin yaitu:

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis dikenal dengan partisipasi aktif bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin yang menerapkan gaya demokratis menghargai pandangan dan masukan dari anggota timnya. Bagi mereka, pengambilan keputusan yang melibatkan beragam perspektif sering kali menghasilkan solusi yang lebih baik.Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin bukanlah satu-satunya orang yang berwenang untuk membuat keputusan penting. Sebaliknya, mereka mendorong diskusi terbuka, brainstorming, dan kolaborasi tim. Gaya kepemimpinan demokratis menciptakan lingkungan yang membuat setiap anggota tim merasa dihargai dan memiliki kontrPemimpinsi yang berarti. Bawahan merasa bahwa mereka memiliki tanggung jawab dalam mengelola tugasnya mereka sendiri sehingga dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan.

2. Gaya Kepemimpinan Visioner

Pemimpin visioner adalah seseorang dengan visi yang kuat untuk masa depan organisasi. Mereka mempunyai gambaran yang jelas tentang tujuan jangka panjang dan arah yang harus diambil oleh organisasi. Pemimpin visioner tidak hanya melihat ke masa depan, tetapi juga mampu menginspirasi bawahan dengan visi mereka. Pemimpin visioner bisa menjadi agen perubahan yang kuat. Mereka mendorong bawahan untuk berpikir out-of-the-box, merancang solusi inovatif, dan mencapai tujuan serta visi perusahaan. Ketika bawahan terhubung dengan visi tersebut, mereka lebih bersemangat dan berkomitmen untuk mencapai hasil yang diharapkan. Pemimpin visioner adalah pemimpin yang dapat melihat peluang di tengah tantangan. Mereka mampu mengarahkan organisasi menuju masa depan yang sukses dengan tekad yang.

3. Gaya Kepemimpinan Multikultural

Dalam era globalisasi, gaya kepemimpinan multikultural menjadi makin relevan dan wajib untuk diterapkan. Pemimpin yang menerapkan gaya ini memiliki pemahaman mendalam tentang nilai keberagaman budaya. Mereka dapat mengelola tim yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dengan bijaksana dan pengertian. Gaya kepemimpinan multikultural melibatkan kesadaran tentang perbedaan budaya, bahasa, norma, dan nilai dalam tim. Pemimpin seperti ini berupaya menciptakan lingkungan di mana semua anggota tim merasa diterima dan dihormati. Mereka mempromosikan kolaborasi lintas budaya dan memahami bahwa perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan jika dikelola dengan baik. Tidak hanya menghormati keberagaman, pemimpin multikultural berusaha untuk memanfaatkannya sebagai alat untuk mencapai hasil yang lebih baik. Mereka memastikan bahwa semua anggota tim memiliki suara dan kontra yang dihargai dalam proses pengambilan keputusan dan pencapaian  .

4. Gaya Kepemimpinan Strategis

Pemimpin strategis adalah mereka yang fokus pada perencanaan jangka panjang dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada data dan analisis. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar dan merumuskan strategi yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan strategis mengharuskan pemimpin untuk menjadi pemikir yang visioner dan analitis. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal yang memengaruhi organisasi, seperti tren pasar, persaingan, dan sumber daya yang tersedia. Dengan pemahaman yang mendalam, pemimpin dapat mengarahkan tim dan sumber daya ke arah yang paling produktif. Pemimpin seperti ini juga berperan dalam menyampaikan visi kepada anggota tim sehingga mereka memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan jangka panjang dan peran dalam mencapainya. Gaya kepemimpinan strategis membantu organisasi untuk tetap relevan dan berdaya saing di pasar yang selalu  .

5. Gaya Kepemimpinan Suportif

Pemimpin suportif terkenal karena mereka selalu menjadi pendengar yang baik dan siap memberikan dukungan emosional kepada bawahannya. Mereka memahami bahwa seorang pemimpin yang peduli dan empati dapat memengaruhi motivasi dan kinerja bawahan secara positif. Gaya kepemimpinan suportif menciptakan lingkungan di mana bawahan merasa diterima dan didukung. Pemimpin seperti ini memahami perasaan dan kebutuhan bawahannya dan mereka bersedia mendengarkan permasalahan atau tantangan yang mungkin dihadapi oleh anggotanya. Selain itu, pemimpin suportif memberikan feedback konstruktif dan dorongan kepada bawahan untuk mencapai tujuan mereka. Mereka berperan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam organisasi. Gaya kepemimpinan ini mendorong loyalitas, keterlibatan, dan perasaan bawahan yang positif terhadap perusahaan. Dalam konteks ini, pemimpin suportif bukan hanya atasan, tetapi juga mentor dan teman yang dapat diandalkan bagi bawahan mereka. Mereka memainkan peran penting dalam membangun budaya kerja yang sehat dan  .

6. Gaya Kepemimpinan Otokratis

Gaya kepemimpinan otokratis dikenal dengan pendekatan yang terpusat pada pemimpin. Pemimpin mengambil keputusan tunggal dan memberikan arahan yang jelas kepada anggotanya. Mereka sering mengendalikan setiap aspek pekerjaan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Mereka memiliki visi yang kuat dan keyakinan dalam kemampuan mereka untuk mengambil keputusan terbaik. Dalam beberapa situasi khusus, seperti saat diperlukan kecepatan dalam pengambilan keputusan atau dalam situasi darurat, gaya kepemimpinan otokratis bisa menjadi hal yang efektif untuk.

7. Gaya Kepemimpinan Transaksional

Pemimpin transaksional adalah pemimpin yang berfokus pada penggunaan rewards and punishment (insentif dan hukuman) untuk memotivasi bawahan. Mereka menetapkan aturan dan target yang harus dicapai oleh bawahannya, kemudian memberikan imbalan atau sanksi berdasarkan pencapaian hasil. Dalam gaya kepemimpinan ini, kontrak atau perjanjian kerja yang jelas sering digunakan untuk mengukur pencapaian kinerja. Pemimpin transaksional memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap bawahan dan berharap agar mereka mematuhi peraturan dan mencapai target yang ditetapkan. Walaupun pendekatan ini dapat memberikan dorongan singkat untuk mencapai tujuan tertentu, penggunaan terlalu banyak hukuman atau insentif eksternal dapat mengarah pada motivasi yang bersifat sementara. Pemimpin transaksional cenderung kurang fokus pada pengembangan jangka panjang dan pertumbuhan pribadi  .

8. Gaya Kepemimpinan Delegatif

Gaya kepemimpinan delegatif melibatkan pemberian otonomi yang signifikan kepada bawahan untuk mengambil keputusan. Pemimpin yang menerapkan gaya ini memiliki kepercayaan yang tinggi pada kemampuan dan kompetensi tim mereka. Dalam konteks ini, pemimpin berperan sebagai fasilitator yang memberikan dukungan dan saran jika diperlukan, tetapi mereka tidak mengendalikan setiap aspek pekerjaan. Mereka percaya bahwa memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif dan berkolaborasi secara kreatif akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Gaya kepemimpinan ini mendorong pertumbuhan individu dan tim, karena bawahan memiliki tanggung jawab dan merasa memiliki pemilik terhadap keputusan mereka. Hal ini juga dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mendukung pengembangan potensi maksimal dari setiap anggota  .

9. Gaya Kepemimpinan Transformasional

Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu menginspirasi bawahan untuk mencapai potensi maksimal mereka. Mereka memiliki visi yang kuat dan mampu mengkomunikasikan visi ini dengan cara yang memotivasi dan menggerakkan tim. Gaya kepemimpinan transformasional menciptakan budaya berinovasi dan bersemangat di mana bawahan merasa terhubung dengan tujuan organisasi. Pemimpin seperti ini mendorong kreativitas, pemikiran out-of-the-box, dan perubahan positif. Mereka berperan sebagai role model yang kuat dan mendorong pengembangan pribadi dan profesional anggota timnya. Mereka sering memperkuat nilai organisasi dan memotivasi bawahan untuk berkontrPemimpinsi secara.

10. Gaya Kepemimpinan Liberal

Gaya kepemimpinan liberal melibatkan memberikan kebebasan kepada bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin liberal mendorong eksperimen, inovasi, dan kreativitas. Mereka percaya bahwa memberikan ruang bagi bawahan untuk mengembangkan ide mereka sendiri dapat menghasilkan solusi yang baru dan efektif. Dalam konteks ini, pemimpin berperan sebagai fasilitator yang mendukung gagasan dan inisiatif bawahan. Mereka merasa bahwa bawahan yang memiliki otonomi dalam bekerja akan merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab terhadap hasil kerja mereka. Gaya kepemimpinan ini cocok untuk situasi di mana inovasi dan kreativitas adalah kunci keberhasilan. Namun, pemimpin harus tetap memantau dan memberikan panduan jika diperlukan untuk memastikan bahwa inisiatif yang diambil sesuai dengan visi dan nilai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

 

3.1 Kesimpulan

Setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan pemimpin yang efektif dapat memilih gaya yang paling sesuai dengan situasi, kondisi dan tim yang mereka pimpin. Gaya kepemimpinan yang dipilih akan berdampak besar pada kinerja bawahan dan kesuksesan organisasi. Penerapan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya dan tujuan organisasi , tidak ada satu gaya kepemimpinan yang sempurna sehingga pemimpin bisa menggabungkan kombinasi dari berbagai gaya kepemimpinan.

3.2  Rekomendasi

Dengan merujuk pada pada tantangan aspek alam, budaya, kependudukan serta perekonomian yang ada di Indonesia saat ini, maka gaya kepemimpinan yang sesuai dengan Indonesia adalah gaya kepemimpinan kolaborasi antara gaya kepemimpinan 1 dengan yang lain. Gaya kepemimpinan yang ada bisa dikombinasikan sesuai kondisi mengingat adanya keberagaman dan permasalahan Indonesia yang cukup kompleks. Tentunya, gaya kepemimpinan apapun diharapkan bisa menjadi Indonesia yang lebih baik dengan meningkatnya kesejahteraan Masyarakat yaitu  :

1.     Meningkatkan kesehatan seperti penurunan angka stunting

2.     Meluasnya lapangan kerja

3.     Pembangunan infrastruktur yang merata sampai ke pelosok daerah

4.     Pendidikan yang merata dan setara sampai ke pelosok daerah

5.     Menekan laju inflasi

6.     Menekan angka kesenjangan sosial

7.     Turunnya angka kriminalitas

8.     Mampu membuat daerah mandiri secara ekonomi lewat kematangan mental, disiplin, kreatifitas serta mampu mengelola sumber daya alam yang ada

9.     Memperbaiki kinerja pemerintah dengan system yang bersih, transparan dan anti korupsi

10.  Bisa menggali sebanyak-banyaknya potensi sumber daya yang ada di daerah sebagi penguatan ekonomi mandiri

11.  Memperbaiki regulasi-regulasi yang ada sesuai dengan kondisi terkini dan pro rakyat

12.  Bisa seimbang dan seirama dengan laju perkembangan teknologi yang pesat

13.  Membuat harga sembako stabil

14.  UMKM dan usaha kecil lainnya makin berkembang

15.  Pemerataan internet sampai ke pelosok daerah

 

REFERENSI

1.     https://journal.feb.unmul.ac.id/index.php/JURNALMANAJEMEN/article/download/10796/1934

2.     https://jurnal.unpad.ac.id/adbispreneur/article/view/39546

3.     https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/balanca/article/view/1393

4.     http://www.wisnuwardhana.ac.id/jppim/index.php/jppim/article/view/86

5.     https://stiemmamuju.e-journal.id/FJIIM/article/download/145/86

6.     https://ikom.umsida.ac.id/10-gaya-efektif-kepemimpinan-organisasi/

7.https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-tantangan-kepemimpinan-jokowi-ma-ruf-amin-setelah-1-tahun-21-oktober-2020

8.     https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/gaya-kepemimpinan/

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar