MAKALAH
TANTANGAN KEPEMINPINAN DALAM PEMERINTAHAN INDONESIA
MATA KULIAH
KEPEMIMPINAN DALAM SEKTOR PUBLIK
DOSEN PENGAMPU : HENDRA SUKMANA, M.KP
OLEH
: DWI APRIANA
NIM
: 232020100154
PRODI
ADMINISTRASI PUBLIK
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2024
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan nikmat
serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami bisa
menyelesaikan makalah mata kuliah "Kepemimpinan Dalam Sektor Publik".
Sholawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar
kita Muhammad saw. yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur'an dan
sunah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan satu di antara tugas mata kuliah Perencanaan
Pembangunan di program studi Administrasi Publik Fakultas Organisasi, Hukum,
dan Ilmu Sosial pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Hendra Sukmana, M.KP. selaku dosen pembimbing
mata kuliah Kepemimpinan dalam sektor publik dan kepada segenap pihak yang
telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam
penulisan makalah ini maka itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Sidoarjo, 14 Mei 2024
Penulis
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
Halaman Judul
..................................................................................................................
i
Kata Pengantar
.................................................................................................................
ii
Daftar Isi
..........................................................................................................................
iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah
…………………………………………………………………...
1.3 Tujuan Pembahasan
...................................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Arti Kepemimpinan ..............................................................................
2.2. Macam gaya kepemimpinan.................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
.................................................................................................................
3.2 Saran………................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................
iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan bangsa yang secara politik
dan secara resmi meraih kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945, dan diakui dari
negara luar yaitu dari Sabang sampai Merauke dan Indonesia menganut sistem
pemerintahan Presidensial yaitu Presiden sebagai kepala Negara sekaligus kepala
Pemerintahan. Presiden juga dibantu oleh wakil Presiden dan menteri-menteri
dalam kabinet yang memegang kekuasaan eksekutif untuk menjalankan tugas-tugas
pemerintahan sehari-hari.
Dalam sejarah perjalanan lembaga Kepresidenan
Indonesia mempunyai karakteristik tersendiri yang menjadi pemimpin saat itu.
Pada konstitusi pun Indonesia setidaknya ada tiga sampai empat kali perubahan
konstitusi. Selama lebih dari tujuh puluh dua tahun kemerdekaan sejak tahun
1945, Indonesia telah memiliki tujuh presiden yaitu Presiden Soekarno, Presiden
Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati
Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Setiap
presiden memiliki karakteristik gaya tersendiri dalam memimpin. Tentunya mereka
menerapkan gaya kepemimpinan masing-masing berdasarkan era dan kondisi
Indonesia saat itu.
Indonesia adalah negara yang begitu luas, dengan
jumalh penduduk yang banyak sehingga terdiri dari berbagai macam suku dan
budaya. Memiliki bentang alam yang indah dan luas yang terbentang dari Sabang
sampai Merauke merupakan keunggulan tersendiri sebagai negara yang luas. Namun,
tidak menutup kemungkingan hal itu juga merupakan kendala untuk melangsungkan
kegiatan pemerintahan. Seiring dengan berjalannya waktu, dalam menjalankan
pemerintahan yang ada di Indonesia, pemimpin memiliki beberapa kendala dan
tantangan yaitu :
1. Indonesia adalah sebuah negara republik yang
terdiri dari banyak pulau di kawasan Asia Tenggara. Luas daratannya adalah
1.913.578,68 km² dan luas perairannya mencapai 6.653.341,439 km², dengan garis
pantai sepanjang 99.093 km yang mana merupakan wilayah yang sangat luas dengan
pulau-pulau terpisah perairan.
2. Jumlah penduduk Indonesia saat ini sebanyak
279.449.131 jiwa per Senin 6 Mei 2024, berdasarkan penjabaran Worldometer dari
data terbaru PBB 1 . Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan
mencapai 277.534.122 jiwa pada pertengahan tahun.
3. Karena keberagaman daerah, mata pencaharian
penduduk Indonesia juga cukup beragam yaitu, petani, pekebun, peternak,
nelayan, peternak, buruh pabrik, pengusaha jasa dll
4. Kepadatan penduduk yang cukup tinggi membuat
kesenjangan sosial yang berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di
kota-kota besar
5. Pembangunan infrastruktur yang tidak merata
6. Pendidikan yang tidak merata
7. Suhu politik yang memanas
8. Kurangnya lapangan kerja
9. Etos kerja penduduk yang buruk
10. Laju perkembangan teknologi yang terlalu pesat
11. Mental pemerintahan yang buruk dengan maraknya
kasus korupsi dan gratifikasi yang menjadikan menurunnya kepercayaan Masyarakat
terhadap pemerintah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa arti kepemimpinan ?
2. Berapa macam gaya kepemimpinan ?
3. Apa gaya kepemimpinan yang sesuai untuk Negara
Indonesia ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui apa arti dari kepemimpinan
2. Untuk mengetahui macam-macam gaya kepemimpinan
yang ada
3. Untuk mengetahui gaya kepemimpinan seperti apa yang
cocok untuk Indonesia
PEMBAHASAN
Keberhasilan suatu organisasi terletak di tangan seorang
pemimpin. Pemimpin yang baik perlu memiliki kemampuan dalam membimbing,
memotivasi, dan mengarahkan bawahan agar bisa bekerja sama mencapai tujuan organisasi
yang sudah ditetapkan. Agar bisa sukses menjadi seorang pemimpin, perlu
menerapkan gaya kepemimpinan dalam menjalankan tugasnya. Gaya kepemimpinan ini
tidak hanya mencerminkan cara dalam mengelola tim, tetapi menciptakan fondasi
untuk budaya tempat kerja yang kuat.
Secara umum, kepemimpinan menggambarkan hubungan
yang erat antara seseorang pemimpin dengan sekelompok manusia yang dipimpin
karena adanya kepentingan bersama. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan
dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi. Kepemimpinan mutlak diperlukan
bila terjadi interaksi kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai
tujuan organisasi.
Menurut Paul Hersey dan Ken Blanchard dalam teori
“kepemimpinan siklus hidup” yang kemudian berganti nama menjadi teori
“kepemimpinan situasional” (1969), mengemukakan bahwa esensi kepemimpinan
adalah tercapainya tujuan melalui kerja sama kelompok. Kepemimpinan seharusnya
ditempatkan di depan baru kemudian diikuti dengan manajemen. Mengapa
kepemimpinan harus diletakkan terlebih dahulu, yaitu karena kepemimpinan pada
dasarnya merefleksikan proses pemimpin menciptakan visi, mempengaruhi sikap,
perilaku, pendapat, nilai- nilai, norma, dan sebagainya dari pengikut untuk
mewujudkan visi tersebut.
Peranan kepemimpinan adalah memberikan dorongan
terhadap bawahan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki pemimpin. Oleh karena
itu, kepemimpinan secara umum didefinisikan sebagai suatu seni bagaimana
membuat orang lain mengikuti serangkaian tindakan dalam mencapai tujuan. Tujuan
ini merefleksikan nilai-nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi yang
diharapkan oleh pemimpin dan yang dipimpin. Kata pimpin mengandung pengertian
mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun, dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi.
Dari sekian banyak definisi kepemimpinan yang pernah dikemukakan para pakar,
satu diantaranya yang paling lugas dan sederhana adalah apa yang pernah
dikemukakan John C. Maxwell dalam bukunya “The 21 Irreputable Laws Of
Leadership” bahwa “Kepemimpinan itu adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak
kurang”.
Menurut Maxwell, baik-buruknya suatu kepemimpinan
akan membawa pengaruh dalam segala segi kehidupan organisasi yang dipimpinnya.
Setidaknya terdapat 3 esensi kepemimpinan yang perlu dipelajari dan ditumbuhkan
agar dapat menjadi sosok pemimpin yang ideal dan dapat membawa kesejahteraan
bagi masyarakat. Ketiga esensi penting dari kepemimpinan tersebut adalah:
1. PENGARUH
Esensi pertama dari kepemimpinan adalah pengaruh.
Seorang pemimpin seharusnya dapat membawa pengaruh yang positif bagi mereka
yang dipimpinnya. Sebuah organisasi akan berjalan dengan maksimal dan baik
dalam rangka mewujudkan visi jika mendapat pengaruh positif yang kuat dari
seorang pemimpin. Pengaruh positif yang kuat ini akan menciptakan atmosfir yang
kondusif bagi pertumbuhan dan kemajuan organisasi. Pengaruh pemimpin yang
positif ibarat air kehidupan bagi mereka yang dipimpinnya. Pengaruh positif yang
kuat ini lahir dari integritas. Dari integritas lahir keteladanan dan wibawa
sebagaimana pernah Sun Tzu nyatakan, “Pemimpin memimpin dengan teladan bukan
dengan kekerasan”. Pemerintahan yang bersih dan berwibawa lahir dari pemimpin
yang berintegritas serta memancarkan keteladanan sehingga pengaruh positifnya
sangat kuat melingkupi seluruh organisasi yang ia pimpin.
2. PEMBERDAYAAN
Esensi kedua dari kepemimpinan adalah
pemberdayaan. Pemimpin yang baik adalah pemipin yang mampu menggali seluruh
potensi yang ada dalam organisasi yang ia pimpin. Pemimpin akan memberdayakan
segala potensi yang ada, terutama pemberdayaan SDM, demi kemajuan dan
kesejahteraan bersama. Pemberdayaan SDM memiliki peranan yang strategis dalam
kerangka pencapaian tujuan organisasi. Dalam arti luas, pemberdayaan SDM secara
substansi dipahami sebagai proses peningkatan potensi, kompetensi, dan karir
dari pegawai. Sebagai sumber daya, tak jarang para pegawai menghadapi kendala
ataupun hambatan di dalam melaksanakan tugas sehari-hari sehingga tidak dapat
memenuhi ekspektasi dan tuntutan organisasi. Dalam situasi seperti itu,
diperlakukan intervensi yang dimaksudkan untuk memampukan dan memberdayakan
para pegawai agar dapat memunculkan potensi yang mereka miliki hingga bisa
memaksimalkan kinerja mereka dalam bekerja. Diperlukan ketajaman dan kejelian
dalam melihat segala potensi yang dimiliki yang ada dalam wilayah kepemimpinannya.
Maxwell mengungkapkan bahwa “The best leaders are humble enough to realize
their victories depend upon their people”. Para pemimpin yang baik memiliki
sifat rendah hati untuk menyadari bahwa kemenangan-kemenangan mereka bergantung
pada pencapaian orang-orang yang dipimpinnya. Organisasi yang ia pimpin dapat
maju dikarenakan memberdayakan semua sumber-sumber daya yang ada terutama
sumber-sumber daya manusia, bukan justru memanfaatkan mereka yang ia pimpin
demi keuntungan pribadi. Dalam hal ini coaching, mentoring dan counseling
mestinya menjadi perilaku kepemimpinan yang ditunjukkan sehari-hari di dunia
kerja.
3. PELAYANAN/PENGABDIAN
Esensi ketiga dari kepemimpinan adalah
pelayanan/pengabdian. Pemimpin yang baik adalah mereka yang justru melayani,
bukan untuk dilayani. Pelayanan dan kepemimpinan sepertinya adalah dua hal yang
sangat bertolak belakang. Bagaimana mungkin melayani tapi juga memimpin?
Bukankah pemimpin itu justru adalah harus dihormati, dilayani, disanjung?
Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk bersedia
merendahkan diri melayani mereka yang ia pimpin dengan penuh pengabdian.
Fokusnya hanyalah bagaimana mensejahterakan, mengantarkan segala kebaikan bagi
mereka yang ia pimpin. Jiwa pelayanan atau pengabdian ini akan mengibarkan
seorang pemimpin menjadi pemimpin yang besar dan bermartabat.
Di lingkungan birokrasi sering terjadi kerancuan
atau mencampuradukkan antara istilah pemimpin dengan pimpinan. Banyak orang
menyebut pemimpin itu adalah orang yang memiliki jabatan atau kedudukan.
Padahal dua hal ini adalah sesuatu yang berbeda. Kepemimpinan tidaklah sama
dengan kedudukan atau jabatan. Pemimpin (leader) adalah orang yang menjalankan
kepemimpinan (leadership), sedangkan istilah pimpinan merujuk kepada kedudukan
seseorang pada hirarki tertentu pada suatu organisasi. Pimpinan organisasi ini
tentu saja memiliki bawahan/pengikut yang karena kedudukannya seorang pimpinan
mempunyai kekuasaan formal (wewenang/authority) dan tanggung jawab
(akuntabilitas). Istilah lain di lingkungan birokrasi yang memiliki makna sama
dengan pimpinan adalah atasan atau lazim juga disebut sebagai pejabat.
Maxwell menyebutkan bahwa pemimpin yang baik
selalu membuat sesuatu terjadi. Mereka memberikan hasil kerja. Sebaliknya,
pemimpin yang tidak kompeten hanya peduli pada posisi jabatan sehingga
cenderung memainkan politik daripada menghargai bawahan/pengikutnya dan
menjalankan peran kepemimpinannya. Padahal bawahan yang baik sekali pun tidak
dapat mentolerir pemimpin yang buruk. Seringkali hal ini akan berujung pada
ketidakpuasan di tempat kerja.
Sebagai pemimpin harus memandang setiap orang
sebagai pribadi yang utuh, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Menjadi
pendengar yang baik, pertahankan suasana hati yang konsisten dan tetap optimis.
Pemimpin yang baik tahu bahwa konflik atau dinamika hubungan akan naik dan
turun ketika memimpin mereka namun tugas pemimpinan adalah tetap mempertahankan
sikap positif kala berhubungan dengan anggotanya. Hingga pada akhirnya bawahan
akan memberikan upaya terbaik ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka
selalu hadir untuk mendorong dan mendukung mereka. Seorang pemimpin harus
memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan setiap orang yang
dipimpin dan memahami bagaimana mereka sesuai dengan kebutuhan tim. “A leader
must have a clear picture of each person’s strengths and weaknesses and
understand how they fit the needs of the team”, kata Maxwell. Tentukan nilai-nilai
yang penting dan terapkan nilai-nilai itu bersama bawahan. Beri apresiasi
kepada bawahan yang menunjukkan kontribusi.
Pemimpin harus menggali berbagai solusi atas
berbagai persoalan yang terjadi. Memang perlu waktu dan kesabaran, tetapi
begitulah bila kita ingin orang-orang yang kita pimpin lebih berdaya dan kelak
siap menjadi pemimpin yang lebih hebat dari kita, karena salah satu ciri
keberhasilan kita sebagai seorang pemimpin adalah manakala kita berhasil
melahirkan atau menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang bahkan lebih hebat dari
kita
Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin
dalam mengelola timnya untuk mencapai tujuan organisasi, yang mencakup
perilaku, nilai, dan metode yang digunakan untuk menggerakkan anggota tim
menuju pencapaian yang diinginkan.
Tidak ada satu pendekatan kepemimpinan yang
sesuai untuk semua situasi. Gaya kepemimpinan yang ada bervariasi dan pemimpin
yang efektif harus mampu mengadaptasi gayanya sesuai kebutuhan dan dinamika tim
serta organisasi yang dipimpinnya.Sebagai contoh, dalam situasi tertentu, Anda
perlu menerapkan pendekatan demokratis yang melibatkan partisipasi aktif
anggota tim dalam pengambilan keputusan. Di lain waktu, Anda harus menerapkan
gaya kepemimpinan otokratis dan mengambil keputusan tunggal jika menghadapi situasi
genting yang memerlukan ketegasan seorang pemimpin.
Keputusan mengenai gaya kepemimpinan yang tepat
dapat memengaruhi budaya lingkungan kerja dan produktivitas bawahan secara
signifikan. Pemimpin yang memahami berbagai gaya kepemimpinan dan menerapkannya
dengan bijaksana memiliki peluang besar untuk mencapai kesuksesan dalam
memimpin tim serta mencapai tujuan organisasi dengan efektif. Berikut ada 10
gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh pemilik organisasi atau pemimpin yaitu:
1. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis dikenal dengan
partisipasi aktif bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin yang menerapkan
gaya demokratis menghargai pandangan dan masukan dari anggota timnya. Bagi
mereka, pengambilan keputusan yang melibatkan beragam perspektif sering kali
menghasilkan solusi yang lebih baik.Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin
bukanlah satu-satunya orang yang berwenang untuk membuat keputusan penting.
Sebaliknya, mereka mendorong diskusi terbuka, brainstorming, dan kolaborasi
tim. Gaya kepemimpinan demokratis menciptakan lingkungan yang membuat setiap
anggota tim merasa dihargai dan memiliki kontrPemimpinsi yang berarti. Bawahan
merasa bahwa mereka memiliki tanggung jawab dalam mengelola tugasnya mereka
sendiri sehingga dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan.
2. Gaya Kepemimpinan Visioner
Pemimpin visioner adalah seseorang dengan visi
yang kuat untuk masa depan organisasi. Mereka mempunyai gambaran yang jelas
tentang tujuan jangka panjang dan arah yang harus diambil oleh organisasi.
Pemimpin visioner tidak hanya melihat ke masa depan, tetapi juga mampu
menginspirasi bawahan dengan visi mereka. Pemimpin visioner bisa menjadi agen
perubahan yang kuat. Mereka mendorong bawahan untuk berpikir out-of-the-box,
merancang solusi inovatif, dan mencapai tujuan serta visi perusahaan. Ketika bawahan
terhubung dengan visi tersebut, mereka lebih bersemangat dan berkomitmen untuk
mencapai hasil yang diharapkan. Pemimpin visioner adalah pemimpin yang dapat
melihat peluang di tengah tantangan. Mereka mampu mengarahkan organisasi menuju
masa depan yang sukses dengan tekad yang.
3. Gaya Kepemimpinan Multikultural
Dalam era globalisasi, gaya kepemimpinan
multikultural menjadi makin relevan dan wajib untuk diterapkan. Pemimpin yang
menerapkan gaya ini memiliki pemahaman mendalam tentang nilai keberagaman
budaya. Mereka dapat mengelola tim yang berasal dari latar belakang budaya yang
berbeda dengan bijaksana dan pengertian. Gaya kepemimpinan multikultural
melibatkan kesadaran tentang perbedaan budaya, bahasa, norma, dan nilai dalam
tim. Pemimpin seperti ini berupaya menciptakan lingkungan di mana semua anggota
tim merasa diterima dan dihormati. Mereka mempromosikan kolaborasi lintas
budaya dan memahami bahwa perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan jika dikelola
dengan baik. Tidak hanya menghormati keberagaman, pemimpin multikultural
berusaha untuk memanfaatkannya sebagai alat untuk mencapai hasil yang lebih
baik. Mereka memastikan bahwa semua anggota tim memiliki suara dan kontra yang
dihargai dalam proses pengambilan keputusan dan pencapaian .
4. Gaya Kepemimpinan Strategis
Pemimpin strategis adalah mereka yang fokus pada
perencanaan jangka panjang dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada data
dan analisis. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar dan
merumuskan strategi yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya
kepemimpinan strategis mengharuskan pemimpin untuk menjadi pemikir yang
visioner dan analitis. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan
internal yang memengaruhi organisasi, seperti tren pasar, persaingan, dan
sumber daya yang tersedia. Dengan pemahaman yang mendalam, pemimpin dapat
mengarahkan tim dan sumber daya ke arah yang paling produktif. Pemimpin seperti
ini juga berperan dalam menyampaikan visi kepada anggota tim sehingga mereka
memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan jangka panjang dan peran dalam
mencapainya. Gaya kepemimpinan strategis membantu organisasi untuk tetap
relevan dan berdaya saing di pasar yang selalu
.
5. Gaya Kepemimpinan Suportif
Pemimpin suportif terkenal karena mereka selalu
menjadi pendengar yang baik dan siap memberikan dukungan emosional kepada bawahannya.
Mereka memahami bahwa seorang pemimpin yang peduli dan empati dapat memengaruhi
motivasi dan kinerja bawahan secara positif. Gaya kepemimpinan suportif
menciptakan lingkungan di mana bawahan merasa diterima dan didukung. Pemimpin
seperti ini memahami perasaan dan kebutuhan bawahannya dan mereka bersedia
mendengarkan permasalahan atau tantangan yang mungkin dihadapi oleh anggotanya.
Selain itu, pemimpin suportif memberikan feedback konstruktif dan dorongan
kepada bawahan untuk mencapai tujuan mereka. Mereka berperan sebagai sumber
inspirasi dan motivasi dalam organisasi. Gaya kepemimpinan ini mendorong
loyalitas, keterlibatan, dan perasaan bawahan yang positif terhadap perusahaan.
Dalam konteks ini, pemimpin suportif bukan hanya atasan, tetapi juga mentor dan
teman yang dapat diandalkan bagi bawahan mereka. Mereka memainkan peran penting
dalam membangun budaya kerja yang sehat dan
.
6. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan otokratis dikenal dengan
pendekatan yang terpusat pada pemimpin. Pemimpin mengambil keputusan tunggal
dan memberikan arahan yang jelas kepada anggotanya. Mereka sering mengendalikan
setiap aspek pekerjaan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Mereka
memiliki visi yang kuat dan keyakinan dalam kemampuan mereka untuk mengambil
keputusan terbaik. Dalam beberapa situasi khusus, seperti saat diperlukan
kecepatan dalam pengambilan keputusan atau dalam situasi darurat, gaya
kepemimpinan otokratis bisa menjadi hal yang efektif untuk.
7. Gaya Kepemimpinan Transaksional
Pemimpin transaksional adalah pemimpin yang
berfokus pada penggunaan rewards and punishment (insentif dan hukuman) untuk
memotivasi bawahan. Mereka menetapkan aturan dan target yang harus dicapai oleh
bawahannya, kemudian memberikan imbalan atau sanksi berdasarkan pencapaian
hasil. Dalam gaya kepemimpinan ini, kontrak atau perjanjian kerja yang jelas
sering digunakan untuk mengukur pencapaian kinerja. Pemimpin transaksional
memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap bawahan dan berharap agar mereka
mematuhi peraturan dan mencapai target yang ditetapkan. Walaupun pendekatan ini
dapat memberikan dorongan singkat untuk mencapai tujuan tertentu, penggunaan
terlalu banyak hukuman atau insentif eksternal dapat mengarah pada motivasi
yang bersifat sementara. Pemimpin transaksional cenderung kurang fokus pada pengembangan
jangka panjang dan pertumbuhan pribadi .
8. Gaya Kepemimpinan Delegatif
Gaya kepemimpinan delegatif melibatkan pemberian
otonomi yang signifikan kepada bawahan untuk mengambil keputusan. Pemimpin yang
menerapkan gaya ini memiliki kepercayaan yang tinggi pada kemampuan dan
kompetensi tim mereka. Dalam konteks ini, pemimpin berperan sebagai fasilitator
yang memberikan dukungan dan saran jika diperlukan, tetapi mereka tidak
mengendalikan setiap aspek pekerjaan. Mereka percaya bahwa memberikan kebebasan
kepada bawahan untuk mengambil inisiatif dan berkolaborasi secara kreatif akan
menghasilkan hasil yang lebih baik. Gaya kepemimpinan ini mendorong pertumbuhan
individu dan tim, karena bawahan memiliki tanggung jawab dan merasa memiliki
pemilik terhadap keputusan mereka. Hal ini juga dapat menciptakan lingkungan
kerja yang lebih inklusif dan mendukung pengembangan potensi maksimal dari
setiap anggota .
9. Gaya Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang
mampu menginspirasi bawahan untuk mencapai potensi maksimal mereka. Mereka
memiliki visi yang kuat dan mampu mengkomunikasikan visi ini dengan cara yang
memotivasi dan menggerakkan tim. Gaya kepemimpinan transformasional menciptakan
budaya berinovasi dan bersemangat di mana bawahan merasa terhubung dengan
tujuan organisasi. Pemimpin seperti ini mendorong kreativitas, pemikiran
out-of-the-box, dan perubahan positif. Mereka berperan sebagai role model yang
kuat dan mendorong pengembangan pribadi dan profesional anggota timnya. Mereka
sering memperkuat nilai organisasi dan memotivasi bawahan untuk berkontrPemimpinsi
secara.
10. Gaya Kepemimpinan Liberal
Gaya kepemimpinan liberal melibatkan memberikan
kebebasan kepada bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin liberal
mendorong eksperimen, inovasi, dan kreativitas. Mereka percaya bahwa memberikan
ruang bagi bawahan untuk mengembangkan ide mereka sendiri dapat menghasilkan
solusi yang baru dan efektif. Dalam konteks ini, pemimpin berperan sebagai
fasilitator yang mendukung gagasan dan inisiatif bawahan. Mereka merasa bahwa bawahan
yang memiliki otonomi dalam bekerja akan merasa lebih termotivasi dan
bertanggung jawab terhadap hasil kerja mereka. Gaya kepemimpinan ini cocok
untuk situasi di mana inovasi dan kreativitas adalah kunci keberhasilan. Namun,
pemimpin harus tetap memantau dan memberikan panduan jika diperlukan untuk
memastikan bahwa inisiatif yang diambil sesuai dengan visi dan nilai.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan
kelemahan masing-masing, dan pemimpin yang efektif dapat memilih gaya yang
paling sesuai dengan situasi, kondisi dan tim yang mereka pimpin. Gaya
kepemimpinan yang dipilih akan berdampak besar pada kinerja bawahan dan
kesuksesan organisasi. Penerapan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya
dan tujuan organisasi , tidak ada satu gaya kepemimpinan yang sempurna sehingga
pemimpin bisa menggabungkan kombinasi dari berbagai gaya kepemimpinan.
3.2 Rekomendasi
Dengan
merujuk pada pada tantangan aspek alam, budaya, kependudukan serta perekonomian
yang ada di Indonesia saat ini, maka gaya kepemimpinan yang sesuai dengan Indonesia
adalah gaya kepemimpinan kolaborasi antara gaya kepemimpinan 1 dengan yang lain.
Gaya kepemimpinan yang ada bisa dikombinasikan sesuai kondisi mengingat adanya
keberagaman dan permasalahan Indonesia yang cukup kompleks. Tentunya, gaya
kepemimpinan apapun diharapkan bisa menjadi Indonesia yang lebih baik dengan
meningkatnya kesejahteraan Masyarakat yaitu
:
1. Meningkatkan kesehatan seperti penurunan angka
stunting
2. Meluasnya lapangan kerja
3. Pembangunan infrastruktur yang merata sampai ke
pelosok daerah
4. Pendidikan yang merata dan setara sampai ke
pelosok daerah
5. Menekan laju inflasi
6. Menekan angka kesenjangan sosial
7. Turunnya angka kriminalitas
8. Mampu membuat daerah mandiri secara ekonomi lewat
kematangan mental, disiplin, kreatifitas serta mampu mengelola sumber daya alam
yang ada
9. Memperbaiki kinerja pemerintah dengan system yang
bersih, transparan dan anti korupsi
10. Bisa menggali sebanyak-banyaknya potensi sumber
daya yang ada di daerah sebagi penguatan ekonomi mandiri
11. Memperbaiki regulasi-regulasi yang ada sesuai
dengan kondisi terkini dan pro rakyat
12. Bisa seimbang dan seirama dengan laju
perkembangan teknologi yang pesat
13. Membuat harga sembako stabil
14. UMKM dan usaha kecil lainnya makin berkembang
15. Pemerataan internet sampai ke pelosok daerah
REFERENSI
1. https://journal.feb.unmul.ac.id/index.php/JURNALMANAJEMEN/article/download/10796/1934
2. https://jurnal.unpad.ac.id/adbispreneur/article/view/39546
3. https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/balanca/article/view/1393
4. http://www.wisnuwardhana.ac.id/jppim/index.php/jppim/article/view/86
5. https://stiemmamuju.e-journal.id/FJIIM/article/download/145/86
6. https://ikom.umsida.ac.id/10-gaya-efektif-kepemimpinan-organisasi/
8. https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/gaya-kepemimpinan/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar